Teori Asertif

LeT's LeaRn wiTH Me

A.    Definisi

Asertif berasal dari kata asing to assert yang berarti menyatakan dengan tegas. Menurut Lazarus (Fensterheim, l980), pengertian perilaku asertif mengandung suatu  tingkah laku yang penuh  ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang mendukung yang antara lain meliputi : menyatakan hak-hak pribadi, berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut, melakukan hal tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi. Sedangkan Taumbmann (l976) menyatakan bahwa asertif adalah suatu pernyataan tentang perasaan, keinginan dan kebutuhan pribadi kemudian menunjukkan kepada orang lain dengan penuh percaya diri. Alberti dan Emmons (Gunarsa, S.D. l98l) mengatakan bahwa orang yang memiliki tingkah laku asertif adalah mereka yang menilai bahwa orang boleh berpendapat dengan orientasi dari dalam, dengan tetap memperhatikan sungguh-sungguh hak-hak orang lain. Mereka umumnya memiliki kepercayaan diri yang kuat.  Menurut Rathus (l986) orang yang asertif adalah orang yang mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang kebenaran. Mereka tidak menghina, mengancam ataupun meremehkan orang lain. …

View original post 719 more words

Advertisements

Antara cinta, dicintai & mencintai 

BLOG BERBAGI – Cinta yang tulus mampu menghancurkan kerasnya karang, apalagi hati perempuan. Karena memang pada dasarnya perempuan adalah mahkluk yang mudah tersentuh hatinya. Saat ia dicintai, wanita akan merasakannya. Walaupun sebelumnya ia tak punya perasaan apa-apa tetapi lambat laun ia bisa belajar mencintai sang pria. Karena saat dicintai, orang akan merasa lebih berharga, diperhatikan dan merasa luarbiasa.
Sementara saat mencintai, orang akan terdorong untuk menjadi luar biasa, hebat danmemberikan perhatian kepada orang yang kita cintai. Jatuh cinta memang indah, tetapi berhati-hatilah terhadap kekecewaan di belakangnya. Kalau sudah berani jatuh cinta, harus berani patah hati. Saat mencintai, kita tak terpikirkanalasan ataupun penjelasan. Apalagi buat perempuan yanglebih memakai perasaan daripada logika. Terkadang saat jatuh cinta kita menjadi buta terhadap kenyataan dansekeliling. Parahnya, kita jaditak melihat keburukan orang yang kita cintai, juga tak memperhatikan kebaikan dan perhatian orang lain. Karena buat kita saat itu hanya ada dia, dia dan dia. Padahal bisajadi, justru orang lain itu yang lebih tulus dan benar-benar menyayangi kita.
“Saat kita sibuk menatap punggung seseorang dari belakang, seringkali tanpa kita sadari bisa jadi ada orang lain yang juga sedang menatap punggung kita dari belakang. Dan bisa jadi justru orang itulah yang sebenarnya adalah cinta sejati kita, bukan orang yangsaat itu kita tatap punggungnya dari belakang.”

Perempuan, akan lebih bahagia saat dicintai. Karena perempuan punya energi yang terbatas untuk mengejar cinta. Dulu, saya pernah berpikir kalau cinta tak butuh balasan. Ternyata salah. Cinta antara perempuan dan laki-laki itu butuh balasan. Apalagi buat seorang perempuan. Sebesarapapun perasaan seorang perempuan terhadap seorangpria, kalau terus menerus dalam posisi mengejar dan terabaikan tanpa ada balasan, lambat laun akan lelah juga. Yang kemudian akan menipis dan terkikis habis tergantikan dengan cinta – cinta yang lain.
Seorang pria tidak seperti perempuan yang suka bermain “jinak-jinak merpati”. “Kalau seorang pria memang mencintai seorang perempuan, ia akan melakukan apapun untuk menarik perhatian dan untuk mendapatkannya” (from He isJust Not That Into You by : Greg Behrendt). Sebaliknya, umumnya pria tidak bisa belajar mencintai seperti halnya perempuan. Mereka umumnya relative lebih ‘straight and to the point’. Suka ya suka, tidak ya tidak.Walaupun untuk beberapa kasus ada pria yang bisa belajar mencintai, berupaya mencintai atau bahkan berpura-pura mencintai seorang wanita. Tetapi coba tanya hatinya, bisakah ia membohongi hati dan perasaan sendiri? manusia normal tidak. Mungkin manusia –baik pria ataupun wanita – bisa membohongi seluruh dunia. Tapi ia takkan pernah bisa membohongi Tuhan dan dirinya sendiri.
Ini bukan berarti perempuan tidak setia. Tetapi buat saya,apa artinya sebuah kesetiaan kalau sebenarnya orang yang kita setiai tidak butuh itu. Bahkan lebih buruknya kalau orang yang kita cintai sama sekali tidak membutuhkan kita. Untuk apa bergantung pada sesuatu yang tidak sudi kita jadikan tempat bergantung. Percuma saja memberikan perhatian, sayang dan kebaikan untuk seseorang yang tidak pernah menghargai semua yang telahkita lakukan. Haloo… dunia iniluas dan indah loh. Masih banyak kesempatan dan hal-hal baik di luar sana yang menanti kita. dunia itu indah. Hidup itu indah, hanya jika kita ingin menjadikannya indah J Karena berbahagia adalah sebuah pilihan.
Cinta memang tentang perasaan, tetapi tetap harus menggunakan logika dan pikiran. Dan satu hal, jangan sampai cinta membuat anda kehilangan harga diri dan dirianda sendiri. karena sesungguhnya Tuhan menanamkan perasaan cinta ke dalam hati manusia untuk memuliakan manusia, bukan untuk menghinakannya. Cinta datang untuk menjadikan manusia lebih baik, bukan untuk membuatnya terperosok dalam jurang perendahan harga diri apalagi kenistaan. Cinta itu suci dan murni. Yang salah adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. Apalagi ketika cinta sudah bercampurdengan nafsu, ego dan keinginan sesaat. 

Jadi, akan memilih mana antara dicintai dan mencintai?Buat saya akan jauh lebih baik bila kita dicintai oleh orang yang juga kita cintai
Keinginan dicintai jangan dijadikan alasan membohongi diri sendiri lantas malas berjuang mengejar cinta. Tetapi tetap ada batasnya. Sampai pada satu titik, ketikamencintai dan dicintai tak bisa dipertemukan pada satu sosok, seorang perempuan mungkin akan lebih berbahagia bila ia memilih untuk dicintai terlebih dahulu.Saya bilang mungkin, karena saya sendiripun belum tahu pasti. karena saya juga belum pernah merasakan dicintai dengan benar-benar. Atau mungkin saya memang belum menyadarinya?

Saat bahasa tak bisa bersuara…

Chris Daughtry

http://youtu.be/sEac4BOGKxM
Love can be so great, but also the greatest source of pain!

ilminimalis

aku berdiri di sini, di balik jendela kaca. Di luar remah remah gerimis masih mengalir dari langit, membasahi rerumput yg menunggu embun berjatuhan.

Aku masih berdiri di sini, tak beranjak. Menunggumu pada waktu yg tersisa, masih saja sama, terasa pilu.

View original post 234 more words

#copas artikel rumah tangga

Lima Tanda Hilangnya Cinta dalam Rumah Tangga
“Saya merasakan bosan hidup serumah dengannya”, keluh Rani. “Pernikahan saya dengan mas Bagus yang baru berumur lima tahun, rasa-rasanya telah kami tempuh berpuluh tahun. Kadang terpikir oleh saya, kapan saya bisa keluar dari kungkungan kejenuhan ini?” lanjutnya.

Ungkapan perasaan di atas, adalah gejala awal pertanda mulai hilangnya cinta dalam rumah tangga. Ada beberapa tanda hilangnya cinta yang harus diwaspadai kemunculannya oleh setiap suami dan isteri. Jika anda tidak mengetahuinya, bisa jadi anda merasa rumah tangga anda aman saja, padahal sesungguhnya telah berada di ambang petaka.

Sebenarnya, perasaan cinta kasih antara suami dan isteri adalah karunia Tuhan yang sangat agung kepada hamba-hambaNya. Bahkan cinta dalam ikatan pernikahan ini merupakan sebentuk perasaan yang amat kuat, melebihi perasaan kecintaan terhadap benda-benda yang lain.

Akan tetapi, seiring dengan perjalanan waktu, cinta yang telah dikaruniakan Tuhan kepada Rani dan Bagus semakin mengering dan akhirnya mati sama sekali. Kondisi ini tentu saja bukan merupakan sesuatu yang datangnya secara tiba-tiba, melainkan pasti ada proses yang menyertainya. Cinta tidak datang secara tiba-tiba, tidak pula hilang secara tiba-tiba. Ada sebab-sebab yang mendatangkan cinta, ada sebab-sebab pula yang menghilangkan cinta.

Tatkala faktor yang menjadi sebab hilangnya cinta mulai muncul dan tidak diusahakan untuk diatasi, akan sanggup mengikis habis, secara perlahan tetapi pasti, cinta yang telah tumbuh selama ini layu kembali. Setiap hari ikatan cinta berurai, satu per satu, hingga akhirnya didapatkan kenyataan cinta mereka telah sirna.

Dalam berbagai interaksi saya dengan banyak keluarga di Jogja Family Center (JFC), saya dapat mengamati adanya tanda-tanda hilangnya cinta dalam keluarga. Berikut ini saya ingin sharing tentang beberapa tanda tersebut. Waspadalah ! Waspadalah !!

1. Merasa tidak butuh lagi dengan pasangan dan merasa kesendirian lebih nyaman

Jika kebosanan telah menghinggapi anda dan anda merasa lebih nyaman apabila sendiri, terpisah dari pasangan anda, maka inilah tanda yang amat kuat bahwa cinta mulai pudar. Sesungguhnya rumah tangga Rani tampak bahagia dan tak ada kekurangan yang bisa dicela oleh orang-orang yang melihatnya. Akan tetapi jika dilihat di dalamnya, yang terjadi sesungguhnya adalah sandiwara. Rani dan Bagus, suaminya, berada dalam jarak psikologis yang sulit disatukan.

Masing-masing merasa tidak butuh dengan pasangannya. Rani asyik dengan kesibukannya mengurus Cindy, satu-satunya anak, yang kini mengikuti program Playgroup. Bagus sibuk dengan urusan bisnis yang amat menguras tenaga dan waktu, juga perhatiannya. Sesampai di rumah, kebutuhan Bagus adalah istirahat, melepas lelah. Ia tidak ingin diganggu oleh isteri dan ulah anaknya. Sementara itu, sebenarnya Rani ingin sekali berbagi cerita, ingin sekali dimanja dan mendapatkan perhatian sepenuhnya.

Namun karena keinginan Rani tidak pernah menjadi nyata, semakin lama ia percaya bahwa ia harus bisa memupus angan-angan indahnya berumah tangga. Ia harus melaksanakan semua kegiatannya sendiri. Ia menyelesaikan semua masalahnya sendiri, karena Bagus tak mau mengerti. Ia mengelola anaknya sendiri, dan akhirnya iapun menikmati hidup sebagai diri yang mandiri, kendatipun memiliki suami. Kondisi ini berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga masing-masing menikmati indahnya hidup sendiri.

Masing-masing merasakan kenyamanan dalam keadaan kesendirian, dan merasa tidak butuh lagi dengan kehadiran pasangan. Jika keadaan ini dipertahankan, kematian cinta akan sangat mudah didapatkan. Segeralah melakukan evaluasi dan meraih kembali cinta anda yang telah mulai beranjak meninggalkan hati dan perasaan anda. Jika anda biarkan, cinta akan semakin menjauh dari keluarga anda.

2. Tidak merasakan rindu ketika berpisah jauh

Tanda hilangnya cinta, adalah tidak merasakan rindu ketika berpisah jauh atau dalam waktu yang cukup lama. Suami dan isteri yang berpisah karena suatu tugas lama, atau karena perjalanan yang jauh, semestinya merasakan gejolak rindu yang kian lama kian menguat. Semakin lama terpisahnya, semakin menebal rindu mereka. Jika yang terjadi sebaliknya, bertemu atau berpisah sama saja perasaan mereka, inilah pertanda cinta mulai sirna.

Suatu saat Bagus berpamitan untuk melakukan transaksi bisnis ke Singapura untuk waktu yang lama. Rani melepas Bagus begitu saja. Hari-hari Rani sendiri, rasanya justru semakin lega karena merasakan kebebasan dan hidup tanpa beban. Demikian juga yang terjadi pada Bagus. Selama dua pekan di Singapura, hanya sempat sekali menelpon Rani, itupun untuk meminta tolong menyiapkan berkas yang akan diambil oleh pegawai kantornya. Tidak tampak kerinduan pada sikap Bagus selama meninggalkan isteri dan anaknya.

Saat kembali dari Singapura, Bagus memang membawa sejumlah oleh-oleh untuk Cindy. Tapi baru saja tiba di rumah, ia kembali disibukkan oleh urusan kantornya. Semestinya, pertemuan setelah suami isteri berpisah dua pekan, mereka rayakan bak pengantin di malam pertama. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Rani tidak merasakan kehangatan kerinduan Bagus, dan sebaliknya, Bagus juga menampakkan sikap yang dingin-dingin saja saat datang ke rumah.

Jika rindu tak lagi berada di hati anda, itulah pertanda hilangnya cinta dalam rumah tangga anda.

3. Mudah berprasangka kepada pasangan

Cemburu adalah bagian dari pertanda cinta dalam kehidupan berumah tangga. Akan tetapi jika cemburu telah berlebihan, akan mudah sekali menaruh prasangka buruk kepada pasangannya. Sikap yang dikedepankan adalah curiga dan tidak percaya. Segala yang dilakukan oleh pasangannya cepat sekali menimbulkan persangkaan berlebihan. Inilah pertanda berikutnya dari hilangnya rasa cinta.

Suami telat sebentar saja sampai di rumah, menimbulkan persangkaan, “Dia tadi mampir kemana? Jangan-jangan….” Suami pergi keluar kota untuk urusan dinas, memunculkan sejumlah kecurigaan, “Dia pergi dengan diapa? Jangan-jangan….” Suami kedapatan ditelpon oleh seorang wanita untuk suatu urusan bisnis, memunculkan syak wasangka, “Siapa yang menelpon suami saya? Jangan-jangan…”

Sebagaimana juga suami yang berlebihan dalam prasangka kepada isterinya. Hanya karena melihat isteri terlibat dalam pembicaraan dengan seorang lelaki, memunculkan sejumlah tanda tanya, “Ada apa isteri saya berbicara dengannya? Jangan-jangan…” Ketika melihat isteri berdandan rapi untuk menghadiri pertemuan RT, memunculkan sejumlah prasangka, “Ada siapa di pertemuan RT nanti, sampai isteri saya berdandan secantik ini? Jangan-jangan…”

Tatkala anda menemukan sejumlah persangkaan negatif terhadap segala yang dilakukan pasangan anda, ketahuilah ini merupakan pertanda mulai memudarnya rasa cinta di hati anda. Sebab seharusnya, cinta akan menumbuhkan kepercayaan dan kesetiaan. Jika tidak lagi bisa mempercayai, justru lebih dominan perasaan mencurigai, cinta dalam keluarga anda telah terancam pudar.

Apalagi jika anda merasakan segala yang dilakukan pasangan lebih tampak sebagai kesalahan di mata anda. Rasanya tidak ada yang benar dari perbuatan pasangan anda. Berbuat begini salah, begitu salah, semua terasa salah. Kondisi ini menandakan rapuhnya perasaan cinta kepada pasangan anda. Segeralah mengobati dan mengantisipasi.

4. Lebih suka menutup diri dan tidak terbuka dalam banyak persoalan

Jika anda menemukan kecenderungan untuk lebih suka menutup diri dalam berbagai persoalan hidup anda, ketimbang membicarakannya dengan pasangan anda, maka hal ini menjadi pertanda melemahnya cinta dalam jiwa anda. Dalam kisah kehidupan keluarga Rani di atas, yang terjadi adalah ketertutupan sikap dalam menghadapi berbagai problematika hidup.

Rani akhirnya lebih suka membicarakan persoalan hidupnya dengan Ika, teman kuliahnya dahulu yang sekarang menjadi tetangga dekat. Ia tidak bisa bercerita secara leluasa kepada Bagus, karena Bagus tidak pernah memberikan kesempatan dan kebebasan untuk mengungkapkan permasalahannya. Sebagaimana pula hal itu terjadi dan dirasakan oleh Bagus. Ia lebih suka memendam permasalahannya sendiri dan tidak mau diketahui Rani.

Pertemuan mereka di dalam rumah sekedar formalitas dan basa-basi, tidak ada agenda yang mereka bawa untuk dibicarakan bersama. Bagus tidak pernah berlaku kasar terhadap Rani, hanya saja sikapnya yang acuh dan dingin telah memicu sikap Rani yang juga memilih banyak diam dan menutup diri. Pembicaraan yang terjadi sehari-hari hanyalah sebatas aktivitas teknis yang biasa dilakukan oleh semua keluarga, bukan pembicaraan mengenai rencana-rencana besar dan evaluasi perjalanan keluaraga selama ini.

5. Kehilangan hasrat kepada pasangan

Apabila perasaan anda dingin saja melihat penampilan pasangan anda, tidak ada hasrat dan gairah terhadapnya, maka ini adalah kematian cinta yang sangat nyata bentuknya. Pada kondisi seperti ini anda akan sangat kesulitan mendefinisikan makna cinta dalam kehidupan rumah tangga. Apa lagi yang akan dilakukan, jika berhasrat terhadap pasanganpun tidak.

Perasaan ini apabila dibiarkan akan bisa memicu munculnya tindak perselingkuhan yang dilakukan baik oleh suami maupun isteri. Lantaran tidak bergairah melihat penampilan isteri, hasratpun tersalurkan justru kepada wanita lain yang bukan isterinya. Demikian pula isteri yang tidak memiliki gairah kepada suami, hasrat bisa disalurkan justru kepada lelaki lain yang bukan suaminya. Perselingkuhan terjadi sebagai akibat dari pudarnya hasrat kepada pasangan, tanpa ada upaya untuk membangkitkan kembali gairah tersebut.

Pada beberapa keluarga, hubungan suami isteri bisa terjadi hanya apabila membayangkan melakukannya dengan orang lain yang lebih bisa menimbulkan gairah. Tatkala melihat penampilan suami atau isterinya, tidak ada yang menyebabkan mereka merasa tertarik dan berhasrat melakukan hubungan seksual. Yang menyebabkan mereka memiliki gairah yang tinggi justru apabila memiliki fantasi seksual, melakukan percintaan dengan bintang film atau artis sinetron, atau orang-orang lain pujaan mereka.

Ajaran agama melarang tindakan fantasi seksual semacam itu, bahwa seseorang membayangkan melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Hal ini merupakan sebentuk penyimpangan dan juga memicu perasaan-perasaan lain terhadap pihak yang menjadi sarana fantasi tersebut. Jika kehilangan hasrat ini telah anda rasakan, segeralah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perjalanan rumah tangga anda. Bisa jadi selama ini kehidupan anda berjalan terlalu mekanistis, tidak ada bumbu-bumbu romantisme, dan kreativitas untuk mempertahankan hasrat kepada pasangan.

Jangan dibiarkan perasaan tersebut berkepanjangan melanda kehidupan rumah tangga anda. Segeralah lakukan tindakan untuk menyelamatkan cinta dalam rumah tangga anda.

(* Rani, Bagus, Cindy, hanya nama rekaan saya. Bukan nama sebenarnya).
Cahyadi Takariawan
/pakcahTERVERIFIKASI (BIRU)
Penulis Buku Serial “Wonderful Family”;
Peraih Penghargaan “Kompasianer Favorit 2014”; Konselor di “Rumah Keluarga Indonesia” (RKI) dan “Jogja Family Center”

Bahan Renungan

SEKEDAR BAHAN RENUNGAN 
Kehidupan di dalam rumah tangga adalah sekolah yg paling baik untuk pertumbuhan spiritual manusia. 
Kalau di rumah tangga orang tidak dapat bersosialisasi dgn baik kemungkinan orang tersebut akan gagal jadi berkah di luar rumah. 
Kalau hari ini Anda merasa pasanganmu bukan orang tepat — seharusnya itu menjadi tantangan bagi Anda, bukan jadi bahan persungutan.
Bagaimana mungkin bisa mengasihi orang lain kalau buat mengasihi pasangan sendiri saja Anda gagal..?
Satu hal yg saya mau sampaikan kepada Anda, sesungguhnya tidak ada seorangpun di dunia ini yg tepat buat kita –bahkan diri sendiri saja sering kita tolak.
Anda tidak akan pernah bisa mendapatkan pasangan yg tepat buat Anda di dunia ini. 
Dari pada memaksakan pasangan kita menjadi pasangan yg tepat buat kita sebaiknya jadilah pasangan yg tepat buat pasangan Anda.
Tangkap ini dan taruh di hati Anda. 

Kita bisa menikahi orang yg tepat, tetapi ketika kita memperlakukanya dgn tidak tepat dia bisa menjadi pasangan yg tidak tepat buat kita. 
Sebaliknya kita mungkin menikahi orang yg kurang tepat, 

tetapi ketika kita memperlakukannya dgn tepat, maka dia bisa menjadi pasangan yg tepat buat kita..
Semakin kita menikmati keSEDIHan dengan mengasihani diri kita, kesedihan akan menguat dan TUMBUH menjadi PENGUASA diri kita
Jadilah PRIBADI yang berKELAS agar memantaskan kita mendapatkan CINTA yang lebih Berkelas…

Apa Beda Pasangan Bahagia dan Pasangan Tidak Bahagia?

Artikel berikut saya copas dari Kompasiana. Menurut saya ini penting untuk diketahui bagi setiap orang yang  telah maupun akan berumah tangga.

Berikut uraiannya,
Kita sering menyebut keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera dengan istilah keluarga sakinah mawadah wa rahmah, atau disingkat dengan istilah ‘keluarga sakinah’. Jika keluarga terbentuk dari pasangan suami istri (pasutri) dan anak-anak, maka jika kita fokus membahas dari sisi pasutri, kita bisa menyebut sebagai pasangan sakinah. Inilah pasangan yang bahagia.

Di sisi lain, dijumpai pula pasangan yang tidak sakinah atau tidak bahagia. Mereka adalah pasangan yang rapuh, mudah berpikir negatif, mudah terbakar emosi, mudah terbakar cemburu. Mereka mudah mengalami konflik dan pertengkaran disebabkan cara pandang mereka dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya. Mereka mudah goyah ketika menghadapi permasalahan, karena tidak bisa bersikap secara tepat dalam menghadapi permasalahan tersebut.

Pasangan yang sakinah atau pasangan bahagia memiliki cadangan kebahagiaan yang melimpah dalam jiwa mereka, memiliki cara pandang dan sikap positif menghadapi berbagai dinamika kehidupan pernikahan. Mereka tidak mudah goyah oleh rumitnya permasalahan kehidupan berumah tangga, bahkan mampu mengemasnya dengan simpel dan sederhana. Berbeda dengan pasangan pada umumnya yang mudah panik, marah, emosi dan lepas kendali saat dilanda persoalan.

John Gottman memberikan beberapa contoh menarik saat menjelaskan perbedaan pasangan bahagia dengan pasangan yang tidak bahagia, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Dalam komunikasi timbal balik

Aktivitas komunikasi  dilakukan secara timbal balik, tidak bisa dilakukan sendirian. Saat suami atau istri mengatakan atau menyampaikan sesuatu pesan kemudian direspon oleh pasangannya, itulah komunkasi timbal balik. Ternyata cara komunikasi timbal balik berpengaruh terhadap kebahagiaan pasangan. Bagaimana bersikap saat pasangan mengatakan sesuatu yang positif dan sesuatu yang negatif, berbeda antara pasangan bahagia dengan pasangan pada umumnya.

a. Sikap pasangan bahagia atas perkataan positif dan negatif

Pada pasangan bahagia, ketika suami atau istri mengatakan sesuatu yang positif, maka pasangan mengomentari dengan cara yang positif pula. Sementara ketika suami atau istri mengatakan sesuatu yang negatif, pasangan bahagia tidak langsung memberikan respon, justru cenderung memilih bersikap santai, atau mencoba memahami pasangannya.

b. Sikap pasangan yang tidak bahagia atas perkataan positif dan negatif

Pada pernikahan yang tidak bahagia, ketika suami atau istri mengatakan sesuatu yang positif, maka pasangan tidak memberikan respon, atau menganggap itu sebagai hal yang biasa saja. Sementara ketika suami atau istri mengatakan hal negatif, pasangan pada umumnya cenderung langsung membalas perkataan negatif tersebut dengan perkataan yang negatif juga, atau memperlihatkan gerak-gerik dan raut muka yang negatif.

2. Dalam melakukan interpretasi pesan

Ketika sedang bertengkar, ada kecenderungan suami dan istri memilih kosa kata yang menjatuhkan dan menyakitkan hati pasangan. Misalnya ketika suami atau istri mengatakan, “Diam kamu! Jangan ganggu aku lagi!” Cara menginterpretasi dan menanggapi pesan menyakitkan tersebut berpengaruh terhadap kebahagiaan keluarga.

a. Sikap pasangan bahagia atas perkataan yang menyakitkan

Pada pasangan bahagia, ketika suami atau istri mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, pasangan tidak menyalahkan dia dan tidak juga menyalahkan diri sendiri, namun berusaha untuk fokus mencari sumber permasalahannya dan berusaha untuk mencari sisi lebih positif dari perkataan tersebut. Contohnya, pasangan bisa mengatakan dengan tenang, “Maaf sayang, kamu tadi bilang apa? Mungkin aku salah dengar ya,” atau, “Oke sayang, silakan menenangkan diri dulu ya…”

b. Sikap pasangan yang tidak bahagia atas perkataan yang menyakitkan

Pada pernikahan yang tidak bahagia, ketika suami atau istri mengucapkan kata-kata yang menyakitkan hati, maka pasangan justru fokus pada rasa sakit hatinya, sehingga lebih mungkin membalas dengan kalimat atau gerak-gerik penuh kemarahan. Misalnya mengatakan dengan suara keras sambil berkacak pinggang, “Bukan aku yang mengganggu. Justru kamu yang selama ini selalu mengganggu aku!” Atau, “Ternyata kamu lebih suka kalau aku bicara sama orang lain daripada bicara sama kamu!”

3. Dalam melakukan interpretasi terhadap perilaku pasangan

Dalam kehidupan berumah tangga, perbuatan kita tidak mungkin selalu manis dan menyenangkan pasangan. Kadang kita melakukan sesuatu perbuatan atau perilaku yang dipandang negatif oleh pasangan, yang mungkin saja tidak kita sadari. Cara menginterpretasikan dan merespon perilaku pasangan akan memberikan dampak yang berbeda pada suasana kebahagiaan di setiap keluarga.

a. Sikap pasangan bahagia atas perilaku pasangan

Pada pasangan bahagia, ketika suami atau istri melakukan sesuatu perbuatan yang negatif –misalnya saja marah yang meledak-ledak atau berbicara kasar, maka pasangan menginterpretasikannya sebagai sesuatu yang sifatnya sementara saja dan akan segera berlalu.

Pasangan juga mampu melihat perilaku negatif itu diakibatkan sesuatu di luar dirinya, seperti berusaha memberikan alasan bahwa kemarahannya yang hebat itu mungkin karena terlalu lelah atau karena sedang mengalami tekanan di kantornya. Sementara itu, ketika suami atau istri melakukan sesuatu perbuatan yang positif, maka pasangan menginterpretasikannya sebagai hal yang memang menjadi kepribadian pasangannya. ”Ya memang itulah dia”, begitu cara pandangnya.

b. Sikap pasangan yang tidak bahagia atas perilaku

Pada pernikahan yang tidak bahagia, ketika suami atau istri melakukan sesuatu perbuatan yang negatif, pasangan justru mengartikannya sebagai kepribadian pasangan, ‘memang itulah dia’, dia egois, dia tak perhatian, dan tuduhan atau klaim negatif lain. Sebaliknya ketika suami atau istri melakukan sesuatu perbuatan yang positif, pasangan justru berpikir bahwa itu sesuatu yang sementara saja. Hanya klise dan berpura-pura, bukan asli jati dirinya.

4. Munculnya pola ‘menuntut-menarik diri’

Dalam kehidupan keluarga, kadang dijumpai adanya suasana ‘menuntut dan menarik diri’. Misalnya istri yang menuntut, sementara suami bersikap mundur dan menarik diri. Jika pola ini ada dalam kehidupan keluarga, maka pernikahan cenderung menjadi kurang bahagia.

a. Sikap pasangan bahagia atas tuntutan pasangan

Pada pasangan bahagia, tuntutan diberikan secara wajar dan dikomunikasikan dengan cara yang baik dan tepat. Pasangan akan mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian mengkomunikasikan tuntutan tersebut, dan berusaha memenuhinya dengan dukungan penuh cinta dari pihak yang menuntut. Pasangan tidak mundur dan menarik diri, karena kecewa dengan adanya tuntutan itu, namun justru mencoba memahami tuntutan tersebut dan berusaha memenuhinya.

b. Sikap pasangan yang tidak bahagia atas tuntutan

Pada pernikahan yang tidak bahagia, suami atau istri memberikan tuntutan yang sulit dipenuhi, sementara pasangannya justru menarik diri. Komunikasi di antara mereka tidak bisa berjalan dengan lancar, akhirnya keduanya mengalami perasaan frustrasi. Masing-masing menuduh pasangan sebagai tidak pengertian.

Dari beberapa perbedaan yang disebutkan John Gottman tersebut, menjadi jelas bahwa pasangan yang bahagia bukannya bebas dari kata-kata atau perilaku negatif. Pasangan bahagia itu manusia biasa, mereka bukan pasangan sempurna. Dalam suatu kesempatan mereka juga saling melontarkan perkataan pedas dan negatif kepada pasangan. Dalam kesempatan yang lain mereka juga melakukan perbuatan yang dipandang negatif dan tidak menyenangkan pasangan.

Namun yang sangat membedakan adalah sikapnya. Pasangan bahagia memiliki sikap positif dan tepat ketika menghadapi suasana yang diharapkan maupun suasana yang tidak diharapkan. Sementara pasangan yang tidak bahagia cenderung bersikap negatif dan tidak dewasa dalam merespon suasana yang diharapkan maupun suasana yang tidak diharapkan.

Sesungguhnya dalam dalam semua pernikahan dan keluarga selalu ada kata-kata negatif, selalu ada perilaku negatif, selalu ada hal-hal yang rentan membuat pasutri tidak bahagia. Namun pasangan bahagia cenderung fokus pada hal-hal yang positif, dan bahkan selalu berusaha mengembalikan kondisi menjadi lebih positif lagi. Sementara pasangan yang tak bahagia cenderung sibuk memperhatikan sisi negatifnya, rasa sakit hatinya, kemarahannya, dendamnya, sehingga akhirnya justru memperburuk kondisi.
Sumber

Oleh Bapak Cahyadi Takariawan